Berjogja.com – Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY menggelar Seminar Catur Sagatra pada Kamis, 27 November 2025.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian rutin pelestarian budaya empat trah Mataram Islam yang terus dijaga keberlangsungannya.
Pada tahun 2025, Seminar Catur Sagatra mengusung tema ‘Kalyana: Olah Pikir – Olah Raga – Olah Jiwa’.
Tema tersebut menegaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga menuntut keseimbangan antara raga, rasa, dan jiwa, atau yang dikenal sebagai konsep lintang gumantung dalam tradisi Mataram Islam.
Pandangan Budaya Mataram Islam tentang Kesejahteraan
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menjelaskan bahwa kesejahteraan dalam perspektif budaya Mataram Islam dimaknai sebagai keselarasan antara raga, rasa, dan ruh.
Selain itu, terdapat pula harmoni antara manusia, alam, serta kehadiran Ilahi.
Nilai-nilai tersebut, menurut Dian, menjadi dasar utama dalam seluruh rangkaian kegiatan Catur Sagatra yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat makna filosofis dan spiritual.
Wellness sebagai Bagian dari Ritme Budaya
Salah satu pemateri, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo dari Kadipaten Mangkunegaran, memaparkan bahwa konsep wellness memiliki keterkaitan erat dengan budaya dan ritme kehidupan.
Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam praktik sederhana yang bisa diterapkan dalam keseharian.
Ia menegaskan bahwa wellness merupakan kebutuhan penting untuk menjaga kualitas hidup. Meski istilahnya baru populer belakangan, esensi wellness sejatinya telah diwariskan oleh para leluhur.
“Serat Wedhatama Karya K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IV mengajarkan harmoni antara budi, rasa, dan laku sebagai jalan menuju keselarasan hidup manusia,” ujarnya pada Kamis, 27 November 2025 di Yogyakarta.
Implementasi Wellness ala Kadipaten Mangkunegaran
Dalam pandangan Kadipaten Mangkunegaran, wellness dimaknai sebagai kesegaran badan, rasa, dan pikiran. Nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai program kekinian yang tetap berakar pada budaya.
Sejumlah inisiatif yang dijalankan antara lain Mangkunegaran Run, Movement Class yang mencakup meditasi, yoga, dan tari, penyediaan Ruang Hijau Terbuka sebagai ruang gerak yang inklusif bagi komunitas, hingga pemanfaatan pakaian sebagai bagian dari gaya hidup, seperti penggunaan kain dan selop sebagai identitas lokal.
Ruang Healing bagi Generasi Muda
Wellness dinilai semakin relevan di tengah kehidupan modern, khususnya bagi generasi muda yang hidup dalam paparan rangsang berlebih dari media, pekerjaan, dan dinamika sosial.
Kondisi tersebut membuat mereka membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dan tempat yang mampu menerima berbagai emosi secara utuh.
Merespons kebutuhan itu, Kadipaten Mangkunegaran menghadirkan berbagai program yang diselaraskan dengan nilai-nilai budaya sebagai bentuk adaptasi terhadap zaman.
“Healing sebagai ruang sederhana merawat diri, berjalan pelan. Berkesenian, menikmati ruang, atau menjalani ritual kecil yang memberi jeda. Kedekatan dengan budaya jadi sumber ketenangan yang relevan bagi kehidupan masa kini,” ujar G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo.


