4 Tradisi Unik Yogyakarta yang Tetap Eksis: Dari Grebeg hingga Tapa Bisu Mubeng Beteng

Febri

Berjogja.com – Yogyakarta selalu punya daya tarik yang membuat siapa pun ingin kembali berkunjung. Selain terkenal sebagai kota pelajar, kota ini juga memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai. Salah satu wujudnya adalah tradisi-tradisi yang masih lestari hingga kini.

Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, tradisi budaya di Yogyakarta tetap memiliki tempat istimewa di hati warganya. Setiap prosesi bukan hanya menjadi ritual, tetapi juga simbol penghormatan pada sejarah, leluhur, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan.

Beberapa tradisi bahkan telah berumur ratusan tahun dan terus digelar secara rutin. Mulai dari Grebeg, Sekaten, Nyadran, hingga Tapa Bisu Mubeng Beteng, masing-masing menyimpan filosofi mendalam yang mencerminkan kearifan lokal di Yogyakarta.

Berikut ini ulasan tentang empat tradisi unik di Yogyakarta yang tetap lestari hingga saat ini.

1. Grebeg

Grebeg adalah salah satu tradisi tahunan Keraton Yogyakarta yang sarat akan makna budaya agraris. Upacara ini digelar sebagai ungkapan doa dan harapan untuk mendapatkan kelimpahan hasil pertanian.

Saat prosesi berlangsung, masyarakat memadati halaman Keraton Yogyakarta untuk menyaksikan momen ini. Salah satu yang paling ditunggu adalah arak-arakan abdi dalem yang membawa gunungan atau tumpeng raksasa berisi aneka hasil bumi dan makanan tradisional.

Kemeriahan Grebeg semakin terasa dengan hadirnya pertunjukan seni, mulai dari tarian khas, alunan musik gamelan, hingga pementasan wayang yang menjadi hiburan bagi warga dan wisatawan.

2. Sekaten

Sekaten merupakan perayaan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad di Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjadi salah satu agenda tahunan paling ikonik di sini.

Perayaannya berlangsung selama sepekan, memadukan unsur keagamaan, seni, dan budaya. Salah satu magnet utamanya adalah pasar malam yang dulu biasanya digelar di sekitar Masjid Agung dan selalu ramai pengunjung.

Beragam kuliner tradisional, kerajinan tangan, mainan, dan pernak-pernik khas Yogyakarta bisa ditemukan di sini. Selain itu, pengunjung juga disuguhkan pertunjukan gamelan, wayang kulit, hingga tarian tradisional.

3. Nyadran

Nyadran atau Ruwahaan adalah tradisi menjelang Ramadan yang dilakukan masyarakat Jawa di Yogyakarta untuk mendoakan arwah leluhur. Upacara ini menjadi momen sakral sekaligus sarana mempererat hubungan antarwarga.

Rangkaian Nyadran mencakup kegiatan seperti besik atau membersihkan area makam leluhur, kirab, ujub, pembacaan doa oleh pemangku adat, makan bersama atau kembul bujono, hingga tasyakuran.

Bukan hanya ziarah, tradisi ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, pengorbanan, dan saling berbagi. Setiap daerah melaksanakan Nyadran dengan kearifan lokal masing-masing, sehingga prosesi di satu tempat bisa berbeda dengan tempat lainnya.

4. Tapa Bisu Mubeng Beteng

Tapa Bisu Mubeng Beteng adalah tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa berbicara sepatah kata pun. Acara ini dilaksanakan setiap malam 1 Muharram atau 1 Suro, bertepatan dengan Tahun Baru Jawa, dan diikuti ribuan peserta.

Tradisi yang diselenggarakan oleh paguyuban abdi dalem ini dimaknai sebagai laku spiritual untuk mengajak untuk berintrospeksi, meneladani kesederhanaan, dan memanjatkan doa keselamatan.

Peserta memulai perjalanan dari Bangsal Ponconiti di Kompleks Kamandungan Lor Keraton, berjalan berlawanan arah jarum jam mengelilingi benteng Keraton tepat tengah malam, sebagai simbol sikap prihatin dan perenungan diri.

Itulah empat tradisi unik di Yogyakarta yang masih dilestarikan hingga kini. Semoga bermanfaat!

Hot Nows ionicons-v5-c