Berjogja.com – Farras Ulinnuha, mahasiswa Program Studi Kedokteran kelas International Undergraduate Program (IUP) angkatan 2021, resmi dinobatkan sebagai wisudawan termuda, pada Kamis (27/11/2025)
Gadis asal Lampung itu berhasil menyelesaikan studi di usia 19 tahun 8 bulan 17 hari, jauh lebih muda dibandingkan rata-rata 1.729 lulusan sarjana UGM yang berada pada usia 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Prestasi akademik tersebut semakin menarik perhatian karena Farras bukan hanya unggul di bangku kuliah, tetapi juga aktif dan berprestasi di dunia cosplay serta komunitas Jejepangan.
Perjalanan Cosplayer Sejak SMP
Di balik pencapaian akademiknya, Farras menyimpan sisi kreatif yang kuat. Ia bercerita bahwa ketertarikannya pada cosplay sudah muncul sejak SMP.
“Aku tertarik sama cosplay sejak aku masih SMP, kebetulan dulu suka closet cosplay dengan baju seadanya di rumah dan ditambah editing, karena aku ngga dibolehin beli cosplay,” kata Farras kepada Berjogja, Jumat (5/12/2025).
Saat memasuki semester 3 kuliah, ia mulai aktif menggunakan kostum dan wig lengkap. Dari situ, Farras belajar banyak hal, termasuk menyewa kostum hingga membeli perlengkapan cosplay menggunakan tabungannya sendiri.
“Mulai aktif fullset kostum-wig itu sejak semester 3 perkuliahan, disitu aku belajar yang namanya rental kostum dan beberapa kali dengan tabunganku aku juga beli kostum,” imbuhnya.
Melihat peluang, ia bahkan sempat merentalkan beberapa kostum miliknya. Namun kesibukan kuliah membuat aktivitas bisnis tersebut harus berhenti.
“Aku juga coba-coba merentalkan costume yang aku pernah juga, tetapi sejak akhir S1-sekarang, aku sudah tidak aktif merentalkan lagi mengingat kesibukan perkuliahan dan maintenance kostum,” tuturnya menambahkan.
Bagi Farras, cosplay bukan sekadar hobi, melainkan ruang untuk terus berkembang.
“Selain jadi wahana mengasah kreatifitasku, cosplay dan jejepangan jadi wahana aku untuk berprestasi,” ungkap gadis asal Lampung itu.
Ia beberapa kali memenangkan kompetisi coswalk dan lomba menyanyi lagu Jepang (Jsong) di berbagai event lokal Joglosemar. Namanya bahkan masuk nominasi cosplayer populer versi komunitas @srawungnomatsuri.
“Aku bisa dibilang cukup aktif di skena Jejepangan Jogja dan pernah menjadi salah satu nominasi cosplayer ‘Perempuan yang aktif, populer, dan berprestasi (queen cosplay)’ untuk area Joglosemar versi @srawungnomatsuri,” lanjutnya.
Membagi Waktu: Akademik Prioritas, Cosplay Jadi Ruang Refreshing
Meski memiliki banyak aktivitas, Farras tetap menempatkan pendidikan sebagai fokus utama. Ia membagi jadwal secara ketat antara kuliah dan hobi.
“Untuk mengatur waktu sendiri, aku menggunakan waktu untuk cosplay lebih banyak di akhir pekan, dikarenakan banyak acara komunitas dan perlombaan yang diadakan di akhir pekan. Sedangkan untuk pekerjaan kampus dan belajar aku gunakan hari kerja untuk mengejar materi,” cerita Farras.
Kesulitan sempat muncul ketika ia masih aktif menyewakan kostum karena harus melakukan perawatan kostum di tengah padatnya jadwal akademik. Namun kesibukan itu berkurang begitu ia berhenti dari aktivitas rental.
“Terkadang rasanya sulit terutama saat saya masih aktif menyewakan kostum… Tetapi semenjak saya sudah tidak lagi menyewakan kostum, beruntungnya tidak terlalu hectic lagi.”
Farras memegang prinsip yang membantunya menjaga keseimbangan antara hobi dan tanggung jawab sebagai mahasiswa kedokteran.
“Prinsip yang saya pakai adalah, jangan melebihkan prioritas hobi daripada pekerjaan. Kecuali hobi tersebut memang tujuan hidup kamu kedepannya. Aku menggunakan sarana cosplay sebagai tempat berkreasi dan berkomunikasi sehingga aku tidak bosan dengan lingkungan kedokteran. Choose your own priority,” lanjutnya.
Kini saat menjalani rotasi klinik, ia mulai mengurangi frekuensi cosplay. Namun bukan berarti mundur sepenuhnya.
“Saat akhir S1 dan saat saya melakukan rotasi klinik seperti sekarang, saya tidak terlalu aktif lagi melakukan cosplay kecuali ada event besar ataupun kompetisi yang berhadiah lumayan. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga saya berkumpul dengan komunitas ketika pekerjaan saya sebagai Coass tidak terlalu sibuk,” imbuh Farras.
Prestasi Ganda: Akademik dan Komunitas
Farras Ulinnuha menjadi contoh mahasiswa yang mampu berprestasi di dua dunia berbeda: pendidikan kedokteran yang menuntut dedikasi tinggi, dan komunitas Jejepangan yang menekankan kreativitas serta ekspresi diri.
Di usia belum genap 20 tahun, ia telah menorehkan prestasi gemilang sebagai wisudawan termuda sekaligus menjadi sosok inspiratif di dunia cosplay Joglosemar.
Perjalanan Farras membuktikan bahwa hobi dan akademik bisa berjalan berdampingan selama seseorang mampu menetapkan prioritas dan manajemen waktu yang tepat.







