Berjogja.com – Kethoprak telah lama menjadi fondasi penting dalam kehidupan budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena peran strategis itulah, Dinas Kebudayaan DIY terus memberikan perhatian serius terhadap keberlanjutan seni tradisi ini.
Komitmen tersebut tercermin melalui penyelenggaraan Festival Kethoprak 2025 yang tidak hanya berfokus pada pelestarian Kethoprak Mataram, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan generasi baru seniman kethoprak yang berkualitas dan berdaya saing.
Festival Kethoprak 2025 digelar di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta, pada 14–15 November.
Selama dua hari pelaksanaan, panggung festival diisi oleh pertunjukan kethoprak dari perwakilan kabupaten dan kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Memainkan Api di Bukit Menoreh”
Lakon legendaris “Memainkan Api di Bukit Menoreh” karya S.H. Mintardja dipilih sebagai tema utama yang kemudian diadaptasi dalam bentuk pementasan kethoprak.
Kisah “Memainkan Api di Bukit Menoreh” mengangkat pergulatan perjuangan, romansa, serta nilai-nilai luhur budaya Jawa di tengah perubahan zaman, menghadirkan sajian pertunjukan yang sarat makna dan refleksi.
Kethoprak sebagai Pilar Budaya
Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan ATLAS, Padmono Anggoro Prasetyo, S.Sn., menyampaikan bahwa Festival Kethoprak 2025 merupakan bagian dari langkah yang terencana dan berkelanjutan dalam mengangkat seni tradisi kethoprak.
“Upaya berjenjang untuk mengembangkan dan memajukan seni tradisi kethoprak sebagai salah satu pilar kebudayaan masyarakat Yogyakarta,” ujarnya.
Festival ini bertujuan untuk memperkuat karakter khas kethoprak, meningkatkan kualitas pembinaan dan pengembangannya, sekaligus menegaskan Kethoprak Mataram sebagai ekspresi budaya khas Yogyakarta.
Lebih jauh, kethoprak juga diposisikan sebagai sarana pelestarian, pembelajaran, dan pengembangan kebudayaan.
Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menuturkan bahwa kethoprak merupakan seni teater tradisional yang melibatkan banyak aspek sumber daya manusia.
“Festival ini menjadi salah satu objek kebudayaan, ketopraknya sendiri, yang cukup banyak mengaplikasikan terkait dengan sastra, busana, tata kelola di dalam manajemen tradisional seni tradisi,” ujar Dian.
Ia menegaskan bahwa esensi Festival Kethoprak tidak semata terletak pada kompetisi, melainkan pada terciptanya ruang kebersamaan untuk saling menghargai, belajar, dan berjalan beriringan dalam memperkuat eksistensi kethoprak di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Ruang bersama untuk saling mengapresiasi, saling belajar dan saling bersanding untuk meneguhkan kethoprak di DIY,” papar Dian.
Penampil Hadirkan Pertunjukan Memikat
Festival Kethoprak 2025 dibuka dengan penampilan Kontingen Kabupaten Gunungkidul yang membawakan lakon “Layang”. Cerita ini mengisahkan dendam Sawung atas kematian ayahnya akibat pengkhianatan Pangeran Singosari.
Gunungkidul menyuguhkan alur cerita yang kuat, ditambah dengan inovasi visual hitam-putih menyerupai komik hidup yang memberikan nuansa segar dalam pementasan seni tradisi.
Selanjutnya, Kabupaten Kulon Progo tampil dengan lakon “Rangsang”, yang menyoroti kegelisahan Sidanti karena sepanjang hidupnya tidak mengetahui siapa ayah kandungnya.
Kekuatan utama pementasan ini terletak pada akting para pemain yang tampil fokus dan penuh penghayatan.
Penampilan ketiga di hari pertama datang dari Kabupaten Sleman melalui lakon “Geni”. Kisah ini menggambarkan bangkitnya amarah Pradonggo setelah mengetahui kematian ayahnya bukan akibat peperangan, melainkan pengkhianatan cinta yang melibatkan Tumenggung Sokalputra.
Sleman menghadirkan garap pertunjukan yang inovatif, dipadu iringan musik baru untuk memberi pengalaman menonton yang segar.
Memasuki hari kedua, Kabupaten Bantul tampil membuka rangkaian dengan lakon “Wuranta” karya Prayitno, adaptasi dari naskah S.H. Mintardja. Pementasan Bantul menampilkan kedalaman penggarapan, kekuatan tafsir naskah, serta tata panggung yang matang.
Seluruh pementasan kethoprak dalam festival ini dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari KRT Stefanus Prigel Siswanto, Raden Mas Altianta Hendriyawan, Oki Surya Ikawati, Ahmad Athoillah, dan Pardiman Djoyonegoro.
Melalui proses penjurian yang ketat, Kontingen Kabupaten Bantul berhasil meraih Juara Terbaik I Festival Kethoprak Antar Kabupaten/Kota DIY 2025. Tak hanya itu, Bantul juga memborong tiga penghargaan individu bergengsi, yakni Sutradara Terbaik yang diraih Silvester Anggung Kidung Pinurba, Penata Gending Terbaik oleh Refa Sudrajat, serta Penata Artistik Terbaik yang dianugerahkan kepada Subekti.
Sementara itu, predikat Penyaji Terbaik II diraih oleh Kontingen Kabupaten Kulon Progo lewat pementasan lakon “Rangsang”.


